Pindah Kerja dari Kota Metropolitan ke Desa? Simak Pengalaman Ini

Big-Cities
http://juliasomething.com/

Walaupun Jakarta adalah kota yang sesak, macet dan penuh masalah, namun kota ini selalu jadi magnet bagi para pencari kerja. Perputaran uang di ibukota Indonesia tentu lebih besar, selain itu infrastruktur maupun fasilitas hiburan berupa mall atau pusat perbelanjaan juga banyak berada di kota yang telah berumur lebih dari 490 tahun ini.

Jadi wajar meski tinggal di kota ini melelahkan namun berkat uang dan beragam fasilitas hiburan itulah yang membuat kota ini jadi sulit untuk ditinggalkan. Tetapi manusia memang boleh berencana, tapi kedepannya tentu saja tak selalu ditentukan oleh rencana tersebut.

Seperti yang dialami oleh salah seorang wanita pekerja bernama Aulia. Gadis asal Semarang ini telah tinggal di kota Jakarta sedikitnya selama 5 tahun terakhir, awalnya setelah lulus kuliah Aulia sempat bekerja di salah satu perusahaan swasta.

Tetapi karena alasan keluarga sehingga Aulia akhirnya harus pergi ke kota lain di daerah Kalimantan Timur, keluarga Aulia sepenuhnya pindah ke Kalimantan. Keluar dari ibukota republik ini awalnya ditanggapi santai olehnya, karena menurut gadis 24 tahun ini dirinya akan berhasil beradaptasi dengan lingkungan barunya, meski bukan berada di kota sebesar Jakarta.

“Ya awalnya kupikir awalnya gak berat ya, waktu itu temen-temen ku menanyakan kembali keputusanku untuk pindah ini. Saat itu dengan gampang ku bilang ga usah khawatir karena ada keluargaku juga di sana yang udah lebih dulu tinggal. Kalo mereka aja bisa kenapa saya enggak?”

Aulia berpikir toh kota yang akan ditempati oleh dirinya nanti itu adalah salah satu magnet pariwisata yang sedang berkembang pesat, yaitu Kakaban Island. Lumayanlah untuk sesekali refreshing dan menikmati pesona alam.

Pertama kali tiba di kota baru

Dugaannya keliru, ternyata kota Berau, Kalimantan Timur yang ditempatinya ini sangat luas. Untuk menjangkau Kakaban Island juga perlu waktu yang tak sebentar, ternyata ini tak semudah perkiraannya dulu, perlu menempuh puluhan kilometer untuk sampai di sana. Kekecewaan pertama dirasakannya.

Kesan pertama tinggal di kota baru ini adalah tidak macet, sangat jauh berbeda dengan kota Jakarta yang hampir setiap hari dilanda kemacetan. Suasana kota lebih tenang dan lenggang. Aulia masih ingat betul bagaimana perjalanan pertamanya ke kantor di mana sepeda motor yang dikendarainya bisa melaju cukup kencang tanpa hambatan.

Setidaknya ini adalah salah satu hal postif yang dirasakannya saat tinggal di sini. Lambat laun beragam tantangan dirasakannya, yang menurutnya paling berbeda adalah soal harga. Ternyata untuk beberapa jenis komoditas, harga di Jakarta cenderung lebih murah, misalnya saja sayur mayur.

Menurut pengakuannya harga sayur di temapat ini jauh lebih mahal, dengan analoginya adalah satu petai di Jakarta bisa diperoleh dengan harga Rp 5 ribu, tetapi di sini harganya bisa dua kali lipat.

“Harga sayur di sini lebih mahal, mungkin karena kota ini lebih dekat ke pantai ya jadi justru harga ikan yang jauh lebih murah. Beda kan sama Jakarta di mana harga ikan di sana mahal tapi di sini lebih murah,” tambahnya.

Selain itu untuk fashion baju kerjanya, Aulia juga sedikit kesulitan menemukan toko yang menjual baju dengan harga yang sesuai dengan barang yang diperoleh. Menurutnya harga baju di tempat yang ia temui di kota ini cnederung lebih mahal.

“Beberapa toko menjual baju di atas Rp 100 ribu untuk ukuran baju yang menurut saya bisa didapatkan sekitar Rp 50 ribu di Jakarta. Alhasil saya jadi bingung mau beli tapi mahal, namun baju kan harus diganti,” keluhnya.

Pendapatan

Soal gaji atau income tentu saja berbeda dari yang bisa diperoleh dari kota Jakarta. Di sini, Aulia harus puas dengan UMK yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat yakni berkisar Rp 2,8 juta (2018).

Tentu berbeda dari upah Jakarta yang mencapai Rp 3,6 juta untuk angka minimalnya atau istilahnya UMR. Memang beda kota tentu beda upahnya, namun bagi Aulia yang pernah mencicipi uang lebih banyak, tentu hal ini mengganjal di hati.

“Sejak mengalami hal-hal di atas memang aku sempet merasa syok sih, gak nyangka ternyata seperti ini rasanya. Terlebih di sini juga tak ada mall atau pusat perbelanjaan, bikin aku semakin pusing kalau mau harus refreshing kemana,” tambahnya.

Perasaan-perasaan tersebut terakumulasi dari hari ke hari membuat Aulia merasa tidak betah terus-terusan berada di sini. Kembali ke Jakarta terdengar sangat mengasikan, namun dirinya sadar jika keluarganya sudah di kota ini semua. Rasanya akan sulit jika harus kembali ke Jakarta seorang diri, sehingga cara terbaik untuk mengatasinya adalah dengan bersyukur.

“Keluarga saya di sini juga sangat men-support saya dalam keadaan apa pun, rasanya berat untuk meninggalkan mereka, tapi yasudah lah toh jika kemana pun kita pergi selalu ada saja rasa tidak enak yang kita alami. Mungkin saja saat ini saya mengeluh akan hal ini, tapi mungkin besok bila sudah pergi dari tempat ini mungkin terbesit rasa rindu dengan keindahan kota pesisir ini,” tandasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s