Cerita Seorang Pengantar Pizza

quick_pepperoni_pizza_64616_16x9
bbc.com

Suatu hari, telefon di sebuah restoran pizza berdering dengan keras. Bunyi nyaring itu seperti sudah diprediksi sebelumnya, maklum hari itu adalah hari di mana restoran pizza dibilangan Blok M, Jakarta Selatan ini membuka promo yang menggiurkan.

“BUY ONE GET ONE” begitu yang tertulis di brosur yang tersebar baik secara cetak maupun digital. Tak hanya itu, pengunjung pun berjejalan di depan kasir menunggu antria untuk mendapatkan pizza yang sedang diobral tersebut.

Lembar demi lembar pesanan terus menumpuk memaksa para kitchen staff bekerja lebih maksimal melayani para pengunjung yang semakin lama menunggu semakin berkurang juga kesabarannya.

Seharusnya satu Loyang pizza harus jadi hanya dalam waktu 5 menit di oven, namun menumpuknya jumlah pesanan membuat hati terasa berdegup kencang seakan 5 menit itu terasa sangat panjang.

Hari itu, Denny masih ingat bahwa jumlah pesanan tengah membludak, promo ini menyedot banyak pesanan. Kitchen staff pun akhirnya harus terbagi lagi, mereka yang bekerja part time diminta keluar dari dapur untuk pergi mengantar pesanan langsung ke rumah pelangggan.

Denny yang baru terhitung kurang dari satu minggu bekerja paruh waktu di sana awalnya merasa terkejut, dalam benaknya ia pikir akan membantu di dapur, tapi apa daya personil pengantar pizza tak sebanding dengan jumlah orderan.

“Ya sejak itu, jika pesanan sedang ramai saya pasti akan keluar menggunakan motor restoran dan mengantar beberapa Loyang langsung ke rumahnya. Sempet kaget juga ya, saya tengah asik memberi topping tapi ternyata harus mengantar,” ujarnya berbagi cerita.

 Menjalani hari sebagai pengantar pizza

Hari-hari Denny terbagi jadi dua kegiatan utama, yang pertama adalah kuliah sebagai mahasiswa dan satunya adalah sebagai seorang pengantar pizza. Sudah barang tentu melakoni dua pekerjaan ini mengurasi keringat, meski Denny menjalaninya di tengah semester di mana jadwal mata kuliah yang diambil tak sebanyak saat di semester awal, namun tetap saja bolak-balik dari restoran ke rumah pelanggan bukan perkara ringan.

Jika di dapu, Denny harus lihat menaruh toping di atas Pizza, meski terdengar sepele namun jika diremehkan bukan tak mungkin kita akan salah menaruh topping. Maklum, daftar topping di restoran pizza tempat Denny bekerja ini sudah terkenal dengan banyak sekali macam-macam topping, beserta bumbunya.

“Awalnya sempet kagok ya, karena kan terkejar waktu, jadi kalo panik bukan gak mungkin kita salah taburin toppingnya. Hari-hari pertama pokoknya terasa berat sih, takut salah dan esktra hati-hati banget sehingga akhirnya jadi beban pikiran. Tapi lambat laun perasaan itu hilang, mungkin karena udah terbiasa,” bebernya.

Seperti cerita sebelumnya bahwa jika pesanan lewat telefon sedang ramai, Denny pun harus rela mengantarnya. Nah, di jalanan tantangannya berbeda yaitu soal alamat pelanggan.

Alamat yang ditemui bisa bermacam-macam karena lokasi rumah atau tempat tinggal pelanggan terkadang susah ditemukan. Belum lagi jika tempat tinggal tersebut berada di semacam asrama, sudah pasti semakin susah ditemukan apalagi jika tak ada yang bisa ditanya.

“Pernah waktu itu antar pesanan ke salah satu asrama di Jakarta Selatan, waktu itu kondisinya sepi banget dan saya naik dari satu lantai ke lantai yang lain buat nemuin alamat yang dicari. Bener-bener bingung karena gak ada yang bsia ditanya, nah pas sudah ketemu pun orangnya gak keluar-keluar. Sudah saya telefon, cuma handphone-nya aja yang kedengeran tapi orangnya gak keluar hadeehhh,” keluhnya.

Belum lagi jika pesanan tersebut datang di jam kerja, di mana jalanan Jakarta bakal berubah jadi lautan kendaraan yang harus bergantian, antri dan ekstra-ekstra sabar untuk melewatinya.

Pendapatan

Soal income yang masuk setiap bulan, tentunya bervariasi tergantung dari seberapa lama Denny bisa bekerja. Sistem part time seperti ini membayarkan gaji berdasarkan jumlah jamnya.

Rata-rata Denny mendapatkan sebesar Rp 90 ribu setiap masuknya, namun jumlah tersebut bakal mengerucut jadi sebesar Rp 45 ribu di hari tertentu di mana Denny hanya masuk kurang dari 5 jam. Jadi jika di total, untuk Denny sendiri dengan sistem part time memperoleh pendapatan sebesar Rp 1,3 juta.

Harus diakui jumlah tersebut bukan sesuatu yang besar, namun bukan berarti tak bisa dibanggakan. Karena dari kesempatan itu, Denny belajar bagaimana caranya bekerja, menghargai waktu dan tentunya lebih menghargai uang. Bukankah orang-orang sukses mengatakan bahwa “Bukan seberapa banyak orang menghasilkan uang, melainkan untuk tujuan apa uang itu digunakan?”

Ya, Denny menggunakan uang tersebut untuk membantu meringankan beban kedua orangtuanya. Setidaknya dari penghasilan tersebut, orangtuanya tinggal mencari biaya kuliah per semesternya, soal ongkos sehari-hari Denny bisa menanggungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s