Bukan Hanya Stres, Begini Lho Rasanya Jadi Pengangguran

Penelitian-Pengangguran-Berisiko-Terkena-Serangan-Jantung
source: hellosehat.com

Status pengangguran bukan cuma bisa dimiliki oleh mereka yang hanya lulus dari bangku SMA. Melainkan, jumlah penggangguran yang berstatus sarjana pun tak kalah banyak.

Pengangguran adalah seseorang yang tidak memiliki pekerjaan. Status ini mungkin sebelumnya  tak pernah terbayangkan oleh mereka yang sempat mengenyam bangku perguruan tinggi, karena pada dasarnya dengan berbekal ijazah keluaran Universitas banyak yang berharap setelah lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.

Namun kenyataan berkata lain, jumlah sarjana makin banyak, lapangan kerja semakin cepat terisi dan belum lagi tingkat seleksi yang ketat & hanya menerima karyawan dengan skill yang mumpuni.

Status pengangguran pun terpaksa diterima. Seperti yang sempat dialami oleh Aditya yang sempat menganggur selama hampir satu tahun. Waktu itu, Aditya mengalami peristiwa yang menjadi momok menakutkan bagi karyawan, yaitu PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja.

Awalnya, Aditya merasa bisa memperoleh kembali pekerjaan baru. Berbekal surat pengalaman kerja selama 1 tahun, dirinya cukup pede untuk bisa bekerja kembali.

“Berbagai cara dilakukan, mulai dari melamar via email, bolak-balik pergi ke situs pencari kerja, ikut walk in & Job Fair sampai menghubungi kembali kawan-kawan semasa kuliah yang sudah bekerja. ” ujarnya.

138423_620
source: Tempo.co

 

Hasilnya????

Nihil. Berbulan-bulan lamanya Aditya harus terjebak dalam status pengangguran ini. Dari satu HRD ke HRD lain, belum juga mendapat pekerjaan.

 Hidup Dengan Status Menganggur 

Berbulan-bulan lamanya Adit harus hidup tanpa melakoni pekerjaan. Rutinitasnya berubah drastis. Di kala pagi, saat para saudaranya bekerja, Adit masih terbaring di tempat tidur hingga matahari pagi berganti dengan terik.

“Awalnya terasa biasa saja. Toh selama bekerja kemarin saya selalu bangun pagi, jadi apa salahnya dong kalo sekarang tidur lebih panjang. Tapi itu hanya sementara, karena saya sendiri akhirnya sedih, frustasi dan galau berkepanjangan karena pekerjaan tak kunjung didapat,” terangnya.

Saat bekerja, tidur menjadi sesuatu yang mahal. Namun saat itu Aditya bahkan sudah merasa muak. Ingin sekali kembali ke masa kerjanya. Dari yang tadinya semangat dan pede mencari pekerjaan baru, hingga masuk ke dalam keadaan sedih berkepanjangan seperti ini.

Setiap hari, hanya perangkat laptop yang ia buka guna memastikan apakah sudah ada email yang masuk atau mengecek lagi apakah tersedia lowongan untuk menyambung kembali hidupnya yang dulu.

Keadaan ini makin diperparah dengan cemoohan orang-orang disekitarnya, bukan dari keluarga melainkan dari sisi penghuni komplek rumahnya yang terkejut melihat keberadaan Aditya yang hampir setiap hari ada di rumah.

“Biasalah tetangga, kadang mereka baik kadang nyeblin. Lihat saya di rumah, mereka sering banget tanya apa udah dapat kerja atau belum. Kenapa belum? Dan sebagainya. Benar-benar bikin tertekan. Emangnya siapa sih yang mau nganggur?” keluh Aditya.

Tekanan ini tentu berdampak pada sisi psikologisnya. Aditya jadu lebih mudah merasa kesal dan seringkali mempertanyakan, apa yang sebenarnya salah dalam dirinya.

“Waktu itu bahkan sempet saya nguci diri dalam kamar seharian. Karena saya ngerasa gak enak sama ibu saya di rumah, yang kalau ada tetangga main ke rumah, mereka langsung tanya mengapa gw belum juga dapat kerja. Rasanya benar-benar gak enak dan bikin kuping panas. Bukannya bantuin malah dinyinyirin,”tambahnya..

Bukan hanya dari sisi psikologis, status pengangguran ini juga tentu berdampak pada ekonominya. Selama berbulan-bulan gaji yang biasanya selalu masuk ke dalam rekeningnya pun tak lagi hadir. Alhasil, sedikit demi sedikit tabungannya tergerus oleh berbagai kebutuhan. Mulai dari angsuran cicilan kendaraan hingga ongkos untuk interview.

ilustrasi-pengangguran_20170416_152236

Soal angsuran lah sebenarnya yang bikin was-was, pemasukan tidak pertambah namun pengeluaran setiap bulan tidak pernah berhenti. Inilah yang paling dikhawatirkan semakin memberikan tekanan pada Aditya.

Mengalami keadaan seperti ini, pastinya bukan sesuatu yang mudah untuk dihadapi. Masa-masa sulit ini akhirnya membuat Aditya semakin dekat dengan Yang Maha Pencipta. Dari segi ibadah, Aditya selalu menjalaninya. Masalah ini dianggap sebagai teguran untuknya lebih berusaha lagi dan tidak menyepelekan sesuatu.

“Mungkin saya kelewat pede juga ya. Selepas PHK, saya pikir akan segera dapat pekerjaan baru dengan ijazah dan pengalaman kerja yang saya miliki. Tapi nyatanya saya punya banyak kekurangan yang mungkin menghalangi saya untuk lolos seleksi,” ujar Aditya dengan wajah serius. 

Harapan

pengangguran
(istimewa)

Kesempatan untuk mengubah nasib itu pun datang. Aditya masih ingat betul bagaimana akhirnya dia mendapatkan harapannya kembali. Setelah dua bulan terakhir, jangankan pekerjaan, panggilan interview pun tak ada.

Aditya menduga ini berkaitan dengan momen akhir tahun, di mana biasanya perusahaan melakukan closing tahunan dan persiapan libur panjang sehingga proses recruitment karyawan baru ditangguhkan sementara.

Barulah setelah berganti tahun, ada secercah harapan datang. Satu aplikasi lamaran yang dikirimkannya tempo hari, berbuah panggilan. Dengan hati gembira dan semangat yang bangkit, Aditya datang ke lokasi tersebut, sebuah perusahaan di daerah Tangerang.

“Memang bukan perusahaan besar, hanya skala kecil dan dengan jumlah karyawan sekitar 10 orang. Tapi saya merasa sangat beruntung bisa datang ke tempat tersebut” cerita Aditya dengan antusias.

Ya, di tempat itulah akhirnya Aditya berhasil memperoleh pekerjaan baru. Sesuatu yang sudah lama ia tunggu-tunggu. Segala kegalaunnya telah sirna, sekitar dua hari setelah interview dilakukan, Aditya dinyatakan lolos seleksi dan mendapatkan pekerjaan.

“Akhirnya saya bisa bebas dari belenggu status pengangguran. Meski perusahaaan kecil, namun gaji yang saya peroleh juga tak kalah dari perusahaan lain. Sedikit jauh dari atas UMR. Saya benar-benar bersyukur dan berterima kasih kepada keluarga dan Tuhan atas bantuannya,” tegas Adit.

Aditya memetik pelajaraan berharga dari pengalamannya ini. Sejak hari itu, Aditya berjanji untuk semakin meningkatkan kualitas dirinya untuk menjadi semakin di depan.

“Ada ungkapan yang bilang, kalau kamu nganggur dan kamu adalah orang yang berkualitas. Artinya punya pengalaman kerja yang bagus, bukan kamu yang cari kerja tapi pekerjaan yang kamu cari. Jadi di hari saya semakin bekerja dengan sungguh-sungguh,” tutupnya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s