Suka Duka Pegawai Outsourcing (Bagian 2) – End

Karena masih penasaran Nagita bertahan dan mengikuti alur pekerjaannya. Tak bisa dipungkiri pekerjaan ini memberikan pengalaman baru untuknya. Pekerjaan yang berbeda dari sebelumnya yang pernah ia jalani.

“Pekerjaanya sebenarnya gak terlalu sulit, paling kita sudah selesai di bawah 5 jam. Selebihnya banyak nunggu sampai 8 jam kerja. Nunggu kalau ada masalah pada mesin baru kita kunjungi ke toko itu. Jadi kita nunggu untuk menangani keluhan dan setiap harinya itu gak terlalu banyak komplain yang masuk. Bisa dibilang sebagian besar waktu kerja itu dipakai buat nunggu. Saya tanya ke teman-teman lain ya paling keluhannya seperti itu,”

Tentunya rasa bosan tersebut tak sebanding dengan kejenuhan yang dialaminya selama menganggur. Rasa bosan ini setidaknya sedikit terusir ketika akhir bulan tiba, di mana rekeningnya mulai terisi kembali.

Bisa dibilang itulah alasan utamanya untuk bertahan. Nagita sendiri cukup terkejut dengan gaji yang tak sesuai dengan perkiraannya. Ada gaji pokok ditambah dengan tunjangan-tunjangan lain yang dalam sebulan Nagita bisa memperoleh take home pay sampai Rp 4 juta, jumlah yang tentunya di atas UMR. Nagita sendiri sempat terkejut karena dipikir akan di bawah itu.

“Di kontrak hanya tertera jumlah gaji pokok yang sebesar UMR Jakarta. Namun soal tunjangan-tunjangan tersebut sepertinya dibayarkan langsung oleh perusahaan induk, jadi yang dibawa pulang lumayan besar,” jelasnya.

Dengan gaji seperti itu, banyak diantara rekan-rekan Nagita yang seprofesi bertahan dan enggan untuk mencari pekerjaan lain. Menurut mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan serupa dengan gaji sebesar itu, ditambah pula dilengkapi asuaransi kesehatan dan ketenagakerjaan.

“Di outsourcing lain atau profesi lain mungkin pendapatannya tak sebesar itu. Jadi ini alasan utama mereka bertahan dan enggan untuk beralih ke tempat lain. Terlebih jenjang karirnya juga bisa terbuka karena ada kesempatan untuk seleksi karyawan tetap,” cerita Nagita.

Soal jenjang karir, sebenarnya ada kesempatan untuk melepas status sebagai tenaga Tenaga Alih Daya atau Outsourcing. Ada beberapa karyawan yang telah lama mengabdi dan akhirnya lolos seleksi dan diangkat menjadi karyawan tetap.

“Tapi tentunya perlu waktu untuk sampai di sana. Seleksinya pun dibuka sesuai kebutuhan kan, bisa jadi tahun ini gak butuh jadi baru dibuka lagi nanti. Boleh ikut seleksi itu pun pasti ya banyak faktornya ya, salah satunya rekomendasi atasan,” lanjut Nagita.

Yang jelas butuh waktu untuk bisa sampai di sana dan untuk tahu itu kan kita harus jalanin dulu. Terlebih status pegawai OS cukup lemah dihadapan induk perusahaan. Sewaktu-waktu bukan tak mungkin pemutusan hubungan kerja dilakukan.

“Waktu itu, Pekerjaan Kerja Waktu Tertentu atau PKWT yang dikasih juga jangkanya 6 bulan. Saya kan gatau apakah akan diperpanjang lagi atau gak. Kalau pun diperpanjang sampai kapan? Lalu ke depannya gimana? Apakah jika bertahan saya diizinkan untuk ikut seleksi karyawan tetap itu?,” tanyanya.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut bukankah akan tahu jika menjalaninya? Nah Nagita enggan untuk meneruskan lebih lama pekerjaan ini, suatu tugas yang sebenarnya tidak ia sukai.

“Mungkin terdengar naïf. Sudah pernah punya pengalaman di PHK dan dihimpit masalah ekonomi tapi masih sempat mikirin soal passion. Tapi ya gitu kita kan hidup harus punya visi ke depan. Saya lihat jenjang karir di tempat ini memang ada, tapi ya itu tadi proses untuk jadi karyawan tetap tentu sulit dan butuh waktu lama. Saya pikir untuk mendapat pekerjaan dengan status tersebut gak harus berada di sini, terlebih pekerjaannya juga bukan hal yang saya suka,”

Perasaan jenuh, bosan dan menjalani pekerjaan yang tidak sukai tentu bukan hal yang menyangkan untuk dijalani. Terlebih di umur yang masih muda, kesempatan untuk menemukan tempat yang dicari juga terbilang terbuka.

Jadilah Nagita mulai menyusun rencana untuk mencari pekerjaan yang dianggap lebih sesuai dengan keinginannya yaitu di bidang kreatif. Meski keputusan tersebut cukup disesalkan oleh teman-teman se-profesinya. Selang beberapa bulan kemudian, Nagita diterima di perusahaan tanpa di bawah PT penyalur kerja dan sesuai dengan passionnya.

“Mungkin saya cukup beruntung bisa bekerja dengan perusahaan yang memberikan gaji yang layak, sementara di luar sana teman-teman OS lain mendapat gaji yang rendah.bahkan di bawah UMR. Itu sebabnya, jangan pernah menganggap masa sekolah atau kuliah itu main-main, sebaiknya rajin belajar, gali ilmu sebanyak-banyaknya, kalau ada masa Magang, jalani dengan benar supaya jadi bekal untuk mendapat pekerjaan yang lebih baik kedepannya,” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s