Suka Duka Pegawai Outsourcing (Bagian 1)

Selama ini ada banyak cerita yang mencuat ke permukaan soal pengalaman bekerja dengan status outsourcing. Dari sekian banyak cerita tersebut, rasanya sangat mudah untuk kita menemukan pengalaman yang terdengar mengiris hati.

Keluhan-keluhan tersebut sangat beragam, terutama soal status kerja yang tentunya berbeda dari status yang dimiliki oleh karyawan tetap atau bahkan karyawan yang dikontrak langsung oleh perusahaan induk. Masalah lain yang sering terdengar adalah soal gaji hingga masa depan atau jenjang karirnya.

Namun pengalaman yang sedikit berbeda dirasakan oleh Nagita. Nagita pernah menjadi seorang karyawan outsourcing di salah satu bank di Indonesia. Awalnya Nagita tak pernah terpikir untuk bekerja di bawah PT penyalur tenaga kerja.

“Dari awal kuliah saya gak pernah terpikir buat jadi pekerja OS. Cerita dari internet atau pengalaman tetangga membuat saya ngeri untuk mengalami hal yang sama. Jadi pas lulus, pokoknya harus dapat perusahaan yang layak lah,” ujarnya membuka cerita.

Namun kadang keinginan tak selamanya sejalan dengan kenyataan. Ada saat-saat atau kondisi yang membuat kita kadang harus mengatur ulang rencana, seperti yang dialami oleh Nagita.

“Awal lulus kuliah saya sempat bekerja di perusahaan dengan status tetap. Namun kondisi perusahaan memburuk sehingga harus memangkas semua karyawannya, termasuk saya,” lanjutnya.

Kenyataan tersebut sempat membuatnya shock. Tak menyangka, jika perusahaan yang telah memberikan banyak benefit untuknya harus tutup, Nagita merasa tidak ada masalah sama sekali dengan Haknya sebagai karyawan, mulai dari gaji pokok, tunjangan, asurani kesehatan sampai ketenagakerjaan telah diurus dengan baik oleh perusahaan.

Berawal dari kenyataan pahit tersebut, jadilah Nagita menyandang status sebagai pengangguran. Tentunya itu bukan status yang diinginkannya, setelah mengalami PHK, Nagita berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan pekerjaan baru.

Dari satu meja interview ke meja interview lainnya telah dilakoninya. Perasaan sedih dan frustasi pun menghantuinya. Berulangkali berusaha dan berdoa, namun pekerjaan belum juga didapat.

“Saya waktu itu bingung kenapa juga belum dapat pekerjaan. Padahal saya masih muda dan punya pengalaman. Entah apa yang salah sehingga waktu itu susah sekali untuk dapat pekerjaan lagi. Padahal cicilan menumpuk dan stok uang di tabungan makin tipis,” ujar Pria 23 tahun tersebut.

Hingga akhirnya, Nagita bertemu dengan teman semasa kuliahnya dulu yang saat itu kondisi tak jauh berbeda dengan dirinya. Sama-sama sedang membutuhkan pekerjaan untuk mengisi kembali pundi-pundi uang.

Sang kawan kemudian mengajaknya pergi ke salah satu PT penyalur kerja. Menurut penuturannya, dengan melemar ke tempat seperti itu, pekerjaan akan lebih cepat di di dapat. Nagita yang sudah menganggur selama berbulan-bulan tersebut sempat tergiur oleh kata “Cepat” yang didengarnya.

Dengan setengah hati, Nagita akhirnya menerima ajakan temannya tersebut. Perkataannya ternyata benar, saat bertemu dengan bagian seleksi dari PT penyalur karyawan itu, memang sedang dibutuhkan karyawaan yang bisa langsung bekerja dan ikut training.

Di hari yang sama, Nagita mendapat informasi soal gaji yang akan didapat, jobdesk, lokasi kerja dan lamanya kontrak tersebut. Pekerjaan Nagita bisa dibilang sebagai pemantau penggunaan mesin debit dan kredit yang digunakan di toko-toko.

“Cuma selang dua hari, saya ditelefon lagi dan diminta untuk datang ke kantor pusatnya. Di sana saya interview lagi dengan user, lalu besoknya langsung dikabari untuk ikut training,” jelasnya.

Nagita tak menyangka bila pekerjaan tersebut bisa terbilang sangat cepat diterimanya.Selama berbulan-bula Nagita berpetualang di Jakarta mencari lowongan, tapi kurang dari tiga hari di sini, Nagita sudah memperoleh pekerjaan.

Materi training yang diajarkan oleh seputar divisi dari bank tersebut. Dari satu meja ke meja yang lain, Nagita mendengarkan penjelasan dari masing-masing manajer dari divisi tersebut.

Perasaan bosan sempat menghantuinya. Pasalnya, tak jarang Nagita dan kawannya tersebut harus menunggu sekian jam agar bisa mendapat materi training.

“Gimana ya, di perusahaan sebelumnya saya tak pernah mengalami hal seperti ini. Waktu itu saya sempat merasa seperti kurang dihargai. Bukannya mestinya jadwal trainingnya tersusun baik ya,” keluhnya.

Satu keluhan tersebut tentunya tak membuat dirinya untuk mundur. Dengan besar hati, Nagita mencoba untuk mengerti keadaan perusahaan yang mungkin memang sedang sibuk. Selama seminggu mendapat pelatihan di kantor akhirnya, Nagita turun ke lapangan.

Di lapangan ini Nagita mengunjungi satu toko ke toko untuk melihat keadaan mesin debit dan kredit tersebut. Jika mesin tersebut rusak, Nagita bisa melaporkannya dan langsung ditindaklanjuti.

 

Bagaimana rasanya melakoni pekerjaan tersebut di bawah status outsourcing?

Simak kelanjutannya di link berikut ini 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s