Simak Perjuangan Mahasiswa Magang Ini di TV Lokal!

Banyak mahasiswa yang harus melakukan magang sebelum bisa mendaftar program skripsi. Magang dilakukan langsung di perusahaan atau instansi yang berhubungan dengan jurusan kuliah yang diambil. Seperti yang dilakukan oleh Maria dari jurusan Ilmu Komunikasi – Jurnalistik dari salah satu kampus di Jakarta.

Maria menjalani magang selama kurang lebih dua bulan di salah satu televisi lokal yang menjangkau area kota di Depok dan sekitarnya. Selama magang tersebut, Maria belajar untuk menjadi seorang wartawan yang mandiri. Mulai dari mencari topik berita, pergi ke lokasi liputan sampai menulisnya untuk menjadi narasi teks berita televisi.

“Waktu itu saya magang berdua bersaama kawan saya. Jadi saling tukar pikiran tentang topik apa yang bagus untuk diliput dan kita berdua sama-sama pergi kesana. Kira-kira dalam sehari masing-masing dua lah kita setor ke redaksi,” ujar Maria.

Tantangannya adalah mencari topik yang akan diliput. Harus putar otak untuk mencari ide yang menarik untuk dijadikan bahan liputan. Terlebih karena media ini cangkupannya bersifat lokal, maka terkadang berita-berita nasional yang biasanya banyak didapatkan dari kawasan Senayan (DPR/MPR), KPK, Kementerian dan lain-lain, biasanya tidak cocok untuk materi liputan. Pasalnya berita tersebut baru bisa diliput bila berhubungan atau berdampak langsung pada masyarakat di area TV lokal tersebut.

Nah, alternatifnya adalah problem seputar perkotaan, mulai dari masalah lingkungan seperti sampah, kotornya sungai sampai hal-hal yang bersifat inspiratif seperti liputan tentang enterpreneur.

Jika sudah buntu mencari topik, reporter atau editor membantunya untuk topik yang bisa digarap menjadi berita. Dari kegiatan ini, ilmu jurnalistik yang diperoleh dari kampus bisa dipraktikan dan diasah. Kesempatan untuk wawancara atau berbincang dengan narasumber, menulis berita dan tentunya mengasah insting wartawan yang harus peka terhadap masalah yang terjadi di depannya.

“Yang paling menarik saya bisa wawancara banyak orang dari beragam latar belakang. Mulai dari warga biasa sampai pejabat daerah. Bertemu banyak orang itu kan tentunya melatih kemampuan komunikasi kita juga,” terang Maria.

Disamping itu, tentunya ada hal yang harus dikorbankan oleh Maria. Tak jarang untuk mendapatkan berita, Maria harus berjuang menempuh perjalanan jauh dan mengejar waktu untuk bertemu dengan narasumber. Selain itu, biaya perjalanan juga ditanggung berdua oleh Maria dan kawannya.

“Jadi waktu itu kita liputan pakai motor. Ya saling gantian isi bensin dan makan juga keluar dari dompet sendiri. Ya, saya anggap ini harga yang harus dikeluarkan untuk mengejar pengalaman selama sebulan ini,” ungkapnya.

Selesai dua bulan, Maria kembali fokus ke kampus dan menyusun laporannya. Total ada sekitar 100 halaman yang berhasil ia isi dengan pengalamannya selama magang tersebut. Selain itu ada kebanggan tersendiri yang dirasakan ketika hasil kerjanya berhasil tayang.

“Biasanya sekitar jam 8 malam saya streaming di depan laptop untuk menyaksikan berita saya diputar. Rasanya gembira sekali berita tersebut tersebar luas, lumayan bisa untuk jadi portofolio saya untuk melamar pekerjaan ketika lulus kuliah nanti,” tutupnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s