Content Writer, Profesi Menjanjikan di Masa Kini dan Nanti

Peningkatan jumlah akses internet di Indonesia terbilang sangat besar, data terakhir di 2017 saja menunjukan jika dari 262 juta penduduk tanah air, sebanyak 50% di antaranya telah terakses dengan internet. Besarnya jumlah internet user di Indonesia tersebut juga berdampak pada menjamurnya beragam jenis website.

Dari mulai media, perusahaan, kelompok maupun perorangan ingin menunjukan eksistensinya di dunia maya. Konten yang disajikan pun beragam, mulai dari video, gambar dan tulisan. Namun apa pun jenis konten tersebut pasti membutuhkan narasi yang ditulis. Ini sebabnya peluang untuk meraih rupiah bisa didapat oleh seorang penulis.

Berangkat dari peluang tersebut, kini  kita juga semakin akrab dengan istilah atau yang biasa disebut dengan Content Writer. Coba saja ketika di situs pencari kerja, posisi Content Writer pasti selalu ada.

Job Desk 

Menurut Prima yang bekerja sebagai Content Writer di salah satu perusahaan start-up berbasis aplikasi kesehatan ini, pekerjaan sehari-harinya diawali dengan mencari data tentang topik kesehatan yang paling banyak di cari di Indonesia.

Usai mendapatkanya, Prima pun mencari sumber referensi yang bisa digunakan sebagai bahan rujukan untuk dirinya menulis.

“Jadi misalnya topik hari ini tentang seks. Nah seks ini sendiri kan luas, jadi ambil yang lebih spesifik. Misalnya apa benar obat kuat yang banyak dijual di pinggir jalan itu aman?” ujar Prima.

Sumber referensinya sendiri ada banyak, namun yang pasti ia selalu mengambil dari situs luar negeri. Tidak mungkin mengutip dari situs lokal yang sama-sama berbahasa Indonesia.

“Gak mungkin kan kita ambil dari saingan. Situs luar negeri umumnya juga lebih terpercaya karena mereka membuat tulisan berdasarkan penelitian atau sumber dari ahli. Nah jadi memang lebih kredibel karena berdasarkan bukti ilmiah,” tambahnya.

Setelah mendapatkan bahan tersebut, Prima kemudian menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia yang baik, benar dan enak dibaca. Tidak lupa juga untuk menulis sumber kutipan tersebut. Perkara menterjemahkan ini juga tidak mudah lho, butuh kemampuan bahasa Inggris dan penalaraan yang baik.

“Diterjemahkannya gak bisa full  atau langsung dari google terjemahan karena pasti akan berantakan. Jadi harus di susun menjadi kalimat bahasa yang enak dibaca dan mudah dimengerti oleh pembaca awam,” tegas Pria 25 tahun ini.

Kesulitan utama menjadi seorang Content Writer khususnya dalam bidang kesehatan ini, menurut Prima adalah istilah medis yang kerap kali dipakai oleh situs luar tersebut. Setia hari bukan tak mungkin akan ada istilah dalam dunia medis yang ditemui.

“Bayangin sudah bahasa Inggris dan diselipin beberapa kata medis yang gak umum, misalnya kaya Neuralgia, abdome dan sebagainya,” keluhnya.

Nah untuk solusi tersebut, biasanya ada satu editor medis yang ada di kantor. Editor medis ini adalah seorang dokter yang tentunya sangat paham tentang istilah-istilah dalam dunia kedokteran. Dari penjelasan dokter tersebut barulah penulis akan mengerti maksud dari istilah yang dimaksud.

Dari penjelasan Prima, tentunya ada beberapa poin tentang pekerjaan sebagai content Writer. Yang pertama adalah kemampuan dalam sudut pandang. Di mana ini berguna untuk menentukan angle menarik dari suatu informasi.

Kedua adalah kemampuan dalam melihat masalah. “mengapa itu harus ditulis?” “apa pentingnya?” “apa dampaknya pada orang yang membaca,”. Berbekal kemampuan tersebut, seorang Writer bisa menjawanya melalui tulisan yang ia buat. Dan yang terpenting adalah kemampuan dalam research atau penelitian.

“Orang yang mau jadi content writer harus mampu melakukan pencarian data yang diinginkan dari internet, termasuk dari situs asing. Duduk di layar komputer sambil baca-baca situs asing.  Sebagian orang banyak yang lebih suka menggunakan fasilitas internet ya untuk nonton video, main sosmed dan sebagainya, tapi jika diminta untuk mencari data belum tentu ada yang tahan. Biasanya yang gak tahan ini akan gelisah,” jelas Prima.

Menemukan beragam tulisan di internet lalu merangkainya menjadi suatu artikel yang sedap untuk dibaca tentu bukan proses yang singkat. Selain itu, pemakaian EYD dalam Indonesia harus diterapkan.

Tantangannya adalah menerapkan EYD tersebut ke dalam artikel namun tetap mempertahankan tulisan yang mudah dibaca.

“Sering banget kan kita baca di media, ada artikel biar keliatan menarik alias enak dibaca, mereka tinggalin EYD.  Ada juga yang sebaliknya tulisan sangat baku sampai orang baca di paragraf kedua sudah klik tombol x atau close di situsnya,” tambah Prima

Proses Wawancara atau seleksi (kualifikasi yang dibutuhkan)

Prima sendiri memang sangat menyukai dunia menulis, itu sebabnya pria yang hobi membaca novel dan berita ini sangat menginginkan pekerjaan sebagai Content Writer. Proses seleksinya diawali dengan interview dari user. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputar latar belakang pendidikan, keluarga, dan pengalaman kerja.

Perbedaan mencoloknya adalah soal jumlah artikel yang harus dihasilkan setiap harinya. Menurut penuturan sang user, setiap Content Writer yang bertugas nantinya hanya akan ditarget untuk memberikan 5 artikel dengan jumlah kata minimal 200 hingga 350 kata.

Konten kesehatan dinilai membutuhkan kecermataan yang sangat tinggi sehingga jika terlalu banyak mungkin tingkat kercermatan ditakutkan akan menurun. Kualitas harus benar-benar rapih dan dipastikan bahwa tidak ada istilah yang salah di dalamnya.

Karena konten kesehatan yang berkaitan dengan kehidupan orang, tentunya harus ditulis dengan ekstra hati-hati, dengan proses pengeditan yang dimulai dari Editor Bahasa untuk mengecek EYD serta Editor Medis dari dokter untuk mengecek istilah atau pengeritan medis di dalamnya telah sesuai dengan ilmu kedokteran.

Setelah proses tersebut selesai, Prima diminta untuk menuliskan beberapa paragraf tulisan yang dibuat dari satu situs asing. Tes menulis ini tentunya bisa menunjukan kualitas seberapa baik dan menarik tulisan yang bisa dibuat.

Setelah hari interview tersebut, Prima dinyatakan lolo. Tulisan yang dibuat dinilai sesuai dengan yang diminta.

Sensasi menjadi Content Writer

Prima sebelumnya adalah penulis untuk kanal berita pariwisata dan olahraga. Beralih tugas mengisi artikel tentang kesehatan menjadi tantangannya tersendiri. Selain harus hati-hati, tapi juga harus siap pusing dengan banyaknya istilah medis yang bikin mumet kepala.

Nah, setelah itu pekerjaan berlanjut nih buat postingan yang sudah lolos pengeditan dari editor untuk dimasukan  ke web/aplikasi itu tadi. Prima juga harus mencari foto ilustrasi yang pas untuk mendukung artikel tersebut.

Jadi cukup banyak tanggung jawab yang dijalankan oleh Prima. Jika dirangkum, mulai dari menentukan topik, mencari bahan referensi, ditulis jadi artikel, mencari foto pendukung artikel barulah kemudian di upload ke dalam web.

Menurut Prima, orang yang cocok mengisi posisi tersebut memang orang yang doyan menulis, siap menghabiskan waktu untuk mencari bahan-bahan pendukung artikel dan siap beradaptasi dengan menyesuaikan karakter tulisan sesuai dengan topiknya.

“Saya pernah bekerja untuk kanal olahraga dan pariwisata, tentu gaya bahasa yang ditulis lebih santai dan ceria. Lain halnya di sini, di mana konten yang diperlukan adalah soal kesehatan. Tentu kurang cocok jika penerapan gaya bahasnya sama dengan kanal pariwisata,” tambah Prima.

Profesi content writer di masa depan

Profesi ini di masa depan Prima sangat menjanjikan karena sekarang era digitalisasi mulai berkembang dengan pesat sehingga selalu membutuhkan Content Writer untuk menyajikan informasi yang bermanfaat dan menarik.

Menurut Prima, lapangan pekerjaan sebagai Content Writer akan terus terbuka selama orang-orang membutuhkan informasi yang ingin mereka baca. Lapangan pekerjaan tersebut juga cukup luas, bukan hanya di bidang media, namun juga di agensi periklanan .

“Kalau di media seperti saya ya tugasnya seperti yang saya sebutkan di atas. Kebetulan perusahaan saya ini punya semacam sister company yang bergerak dibidang advertising dan mereka juga punya content writer. Tugasnya sama-sama menulis, cuma beda media. Kalau saya untuk media massa, tapi content writer di Agensi ini, teman saya menuliskan artikel untuk website kliennya”

Contohnya misal ada klien perusahaan bidang susu, website mereka diisi dengan berbagai conten yang berhubungan produk susu atau kesehatan. Dengan begini kan situs mereka juga bisa jadikan rujukan konsumennya untuk dapat informasi.

Nah dari sini kita tahu tentang profesi sebagai Content Writer. Tertarik untuk menjadikan profesi ini sebagai jalan karir?

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s